Husni Mubarrok

Alhamdulillah, sudah 7 buku sola diterbitkan. Ia mulai tertarik di dunia literasi di akhir tahun 2016. Ketika guru dan siswa saling bercermin (Quanta) adalah ka...

Selengkapnya
UN, Silahkan Lanjutkan, Tapi .......??

UN, Silahkan Lanjutkan, Tapi .......??

UN, SILAHKAN LANJUTKAN, TAPI ....??

Husni Mubarrok

Terjadi dialog antar siswa di sekolah yang berbeda. “Buat apa harus belajar dengan sungguh-sungguh materi Ujian Nasional, toh prakteknya kita nanti pasti dikasih jawaban oleh sekolah sebelum ujian berlangsung” celetuk si Rudi sembari menegaskan kepada temannya, si Budi salah satu siswa di sekolah yang berbeda dengannya.

“Maaf Rud, di sekolah saya tidak seperti itu, tidak ada praktek kasih kunci jawaban, baik buruknya nilai UN kita ya..tergantung kita, mau belajar apa tidak, belajar dengan sungguh-sungguh atau ala kadarnya” jawab si Budi dengan penuh antusias sembari menegaskan kepada temannya tentang arti pentingnya semangat dan rajin dalam belajar.

Cerita diatas adalah satu fenomena diskusi kecil di kalangan pelajar tentang ujian nasional. Iya, Ujian Nasional memang menarik untuk dikupas, banyak hal dan aspek yang sering diperdebatkan. Pembahasannya seolah-olah tidak ada kata putusnya, ia selalu menarik untuk dikaji dan diperbincangkan.

Pada satu kelompok, ada yang mendukung pelaksanaan ujian nasional, namun pada kelompok yang lain terang-terangan menolak dengan demo dan unjuk rasa di mana-mana.

Sebagai negara demokrasi. Sah-sah saja menyikapi tentang pelaksanaan ujian nasional dengan respon dan versi yang berbeda. Melakukan penolakan atau justru mendukungnya. Siapapun itu dan dari kelompok manapun silakan. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengungkapkan pola pikir dan pendapat kita dengan santun, tetap arif dan bijak dalam bingkai menghargai perbedaan pendapat.

Bukankan negara kita adalah negara demokrasi?, negara yang ber-Bhineka tunggal ika yang selalu menjunjung tinggi perbedaan pendapat demi satu cita yakni terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai solusi cerdas yang ditawarkan.

Menurut keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 153/U/2003 tentang tujuan diadakannya UN seperti yang tercantum dalam SK Mendiknas No 153/U/2003 disebutkan bahwa tujuan dan fungsi ujian nasional adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota, dan sekolah/madrasah serta untuk mempertanggunjawabkan penyelengaraan pendidikan secara nasional, propinsi, kabupaten/kota, sekolah/madrasah dan kepada masyarakat.

Lantas bagaimana seharusnya sikap kita terhadap ujian nasional itu?. Menurut kacamata penulis. Ada beberapa hal yang perlu dicermati dan dikaji dalam ujian nasional dan menurut penulis sendiri akan memetakannya pada dua dimensi yakni:

Dimensi positif. Diakui atau tidak. Secara fakta dilapangan telah menegaskan bahwa mayoritas siswa terdorong belajar karena adanya ujian.

Coba kita perhatikan dalam contoh sederhananya. Banyak siswa yang belajar malam harinya gara-gara besok pagi ada ujian atau ulangan, dan sebaliknya saat besok tidak ada ujian atau ulangan sangat jarang mereka belajar atau setidak-tidaknya intensitas belajarnya tidak segiat saat ada ujian, setidaknya fenomena ini kerap terjadi pada beberapa siswa yang masih rendah motivasi dalam belajarnya.

Sebagai seorang guru, tentu saya sendiri bisa merasakan betapa antusias dan semangatnya siswa dalam belajar saat musim ujian, terlihat betul perbedaannya.

Sedangkan di saat tidak ada ujian atau ulangan, betapa biasa-biasa saja mereka dalam belajar, bahkan tidak jarang beberapa siswa tidak belajar.

Bahkan seorang ibu acapkali bertanya “Nak, kenapa kamu tidak belajar, tidak seperti hari-hari kemarin”

Lantas sang anak pun menjawab “ujiannya sudah selesai bu” “lho, memangnya kenapa!, masak belajar harus menunggu ujian” tanya si ibu kembali.

Sahabat yang kucinta, begitulah setidaknya fenomena yang kerap terjadi pada sebagian siswa.

Lantas bagaimana jika seandainya ujian nasional dihapuskan atau ditiadakan?, masihkan siswa rajin dan giat dalam belajar?

Dimensi positif berikutnya adalah ujian nasional dapat merangsang upaya sekolah untuk meningkatkan kualitas guru beserta sarana prasarananya. Bagaimana mungkin sekolah bisa mendapatkan nilai ujian nasional yang bagus, sementara guru yang mengajar kurang berkualitas?.

Bagaimana mungkin sekolah dapat memperoleh nilai yang tinggi, sementara sarana prasarana yang dimilikinya serba terbatas?.

Oleh karenanya, setidak-tidaknya dengan ujian nasional, sekolah dapat berlomba-lomba untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan yang selama ini sedang berjalan.

Lihatlah pada negara-negara maju di luar sana. Betapa hebatnya pendidikannya?, betapa hebatnya siswa-siswa yang sedang belajar disana?. Tentu, salah satu faktor penyebabnya adalah terkait dengan bagaimana kualitas guru dan sarana prasarananya.

Sementara dimensi yang perlu dievaluasi dan diperbaiki dalam pelaksanaan ujian nasional adalah jika hasil ujian nasional dijadikan sebagai prasyarat kelulusan. Jika demikian, maka penulis sendiri kurang sependapat. Sebaiknya ujian nasional tetap dilanjutkan namun keberadaan hasil ujian nasional bukan menjadi syarat kelulusan.

Biarkanlah status kelulusan peserta didik berada pada ranah sekolah tempat di mana peserta didik menimbah dan mengembangkan ilmunya. Biarkanlah kewenangan kelulusan diputuskan oleh satuan lembaga pendidikan masing-masing dengan melihat ketiga aspek penilaian yang lebih utuh yakni aspek kognitif, psikomotor dan afektif.

Paket soal ujian nasional yang selama ini sedang berjalan hanya mewakili ranah kognitif semata, sementara ranah psikomotorik dan efektif belum tersentuh. Oleh karenanya pihak sekolah akan jauh lebih faham dan mengerti tentang sejauhmana aspek sikap dan keterampilan yang dimiliki siswa selama mereka di sekolah.

Sekali lagi kurang bijak dan elok, jika hasil ujian nasional yang lebih pada mengukur sisi kognitif semata-mata dijadikan prasyarat utama dasar penentu kelulusan.

Selama tiga tahun terakhir pelaksanaannya. Alhamdulillah, nilai ujian nasional bukanlah sebagai penentu kelulusan siswa, namun kelulusan peserta didik lebih didasarkan pada pertimbangan aspek secara integral yakni aspek kognitif, psikomotorik dan afektif di mana sekolah masing-masing sebagai eksekutor utama penentu kelulusan siswa.

Menurut hemat penulis, ada baiknya bentuk soal ujian nasional perlu didesain lebih cantik lagi. Yakni bukan semata-mata soal bentuk pilhan, namun perlu diberikan pula soal dalam bentuk uraian dan sikap. Meski terlihat rumit, namun penulis yakin tidak ada sesuatu yang sulit kalau belum dicoba dan dilakukan. Setidak-tidaknya alat ukur untuk menilai kemampuan siswa pada dua aspek psikomotorik dan afektif dilibatkan.

Entah bagaimana model dan jenisnya, hanya pakar pendidikanlah yang dapat menterjemahkannya.

Ujian Nasional bukan berati tidak perlu. Ujian nasional masih diperlukan namun tentu harus ada perbaikan dan evaluasi di sana-sini, praktek kecurangan dan kebocoran soal harus dicegah dan dimusnahkan. Jangan sampai memperoleh nilai tinggi namun dengan cara yang kotor dan tak bermoral.

Ujian Nasional setidaknya masih menjadi senjata ampuh dan daya pikat untuk memotivasi siswa dalam meningkatkan intensitas belajarnya. Ujian nasional juga dapat memberikan pengaruh sisi ekonomi bagi pertumbuhan dan perkembangan lembaga-lembaga bimbingan belajar untuk meningkatkan kualitas dan daya saing pelayanannya.

Tidak hanya itu ujian nasional juga mampu mendorong sekolah-sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikannya, baik dari sisi kualitas guru, kualitas siswa, sarana prasarananya, sistem pengajarannya, lingkungan dan budaya belajarnya.

Namun sekali lagi, perbaikan dan evaluasi ujian nasional masih sangat perlu dilakukan terus menerus supaya menghasilkan formula yang terbaik.

Tulisan ini, hanya pendapat pribadi penulis. Anda boleh sepakat ataupun tidak.

So, bagaimana pendapat Anda sendiri tentang UN, menarik untuk disimak.

Bismillah, Silahkan!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ketika UN tidak diperhitungkan bukan tidak mungkin anak kurang serius. Akibatnya peta pendidikan yang diharapkan tidak sesuai kenyataan.

16 Apr
Balas

Luar biasa...memang setiap kita mempunya persepsi yang berbeda tentang UN, tapi perbedaan itu tidak perlu menjadi pemicu perselisihan...apapun pendapat kita...cuma satu doa sebagai orang tua...semoga buah hati kita tumbuh menjadi orang yang beriman dan bertanggung jawab dalam berbagai hal ..aamiin, sukses selalu untuk kita semua Maaf...ini ibuk atw bapak...

16 Apr
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali